Zhen Huan terlihat sedikit panik saat mendengar nama klan yang selama ini dicarinya. Klan itu adalah alasan utama dia membentuk organisasi mata-mata ini. Namun, dia tahu urusannya sendiri harus diselesaikan terlebih dahulu.

"Aku hanya pernah mendengar tentang sebuah keluarga besar yang hancur. Kepala keluarganya tewas karena racun yang sama, racun penyedot jiwa," jawab Zhen Huan, berusaha menutupi gejolak emosinya dengan suara yang tenang.

"Tuan Zhen, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Lala bertanya dengan khawatir. Sejak kehilangan kakeknya dan terpisah dari Lynx, Lala merasa tuan Zhen memiliki sifat yang keras namun perhatian kepadanya, selain itu Zhen Huan memperlakukan Lala seperti anaknya sendiri sehingga Lala merasa agak khawatir melihat perubahan sikapnya.

"Aku baik-baik saja. Aku hanya teringat kejadian masa lalu yang menimpa keluarga tersebut dan kebetulan aku mengenalinya." Kata Zhen Huan dengan sedih.

Lynx menangkap setiap perubahan ekspresi Zhen Huan, tapi dia memilih untuk tidak ikut campur lebih dalam. "Biarlah, selama ini tidak berhubungan dengan suku Surya, aku tidak perlu ikut campur," pikirnya sambil memandang Zhen Huan yang terlihat masih berpikir keras merencanakan sesuatu.

Namun, suasana ruangan yang awalnya tegang tiba-tiba berubah. Seorang pria bertopeng menerobos masuk dengan aura yang tajam dan niat membunuh yang begitu kuat hingga udara di sekitarnya seolah bergetar. Master Foundation Perak Awal. Tanpa aba-aba, sosok itu melesat menuju Lynx dengan kecepatan yang luar biasa.

Wush!

Sebuah pukulan maut menghantam udara, mengarah tepat ke dada Lynx. Namun, tanpa banyak bergerak, Lynx hanya sedikit memiringkan tubuhnya, membiarkan serangan itu meleset dengan mudah.

Lynx menatap sosok tersebut dengan heran dan menerka-nerka."Mungkinkah dia salah satu dari mata-mata yang menyusup? Atau dia mengenaliku? Kenapa dia punya nafsu membunuh yang sangat kuat?"

Jelita, Lala, dan bahkan Tuan Zhen Huan hanya tersenyum kecil melihat sosok yang tiba-tiba datang menyerang. Tidak ada tanda keterkejutan di wajah mereka. Mereka sudah mengetahui rencana penyerangan ini sebelumnya dan mereka juga berusaha membantu dengan membiarkan sosok ini masuk diam-diam, dengan mengalihkan perhatian Lynx. Meskipun Lala dan Jelita sempat memperingatkan bahwa ini berbahaya, pria itu bersikeras karena yakin dengan kemampuannya.

Arkha, Karim, dan Kael awalnya ingin membantu, meskipun kekuatan mereka jauh di bawah tetapi mereka memiliki berbagai peralatan yang dapat menyulitkan musuh mereka. Namun, setelah Kael melihat pakaian dan postur tubuh penyerang, serta ekspresi santai Lala dan yang lainnya, Kael langsung bisa menebak siapa orang itu.

"Kita tidak perlu ikut campur. Lynx pasti bisa menanganinya sendiri." Kata kael mengehentikan tindakan Arkha dan Karim yang sudah memegang kertas jimat.

"Kita tidak bisa membiarkan kepala suku yang turun tangan sendiri selama masih ada kita." Karim dan Arkha bersikeras. Sebagai orang yang lahir di sebuah suku yang keras dan primitif, mereka memiliki kesetiaan yang sangat tinggi.

"Percayalah padaku. Apakah kamu tidak mengenali orang tersebut?" Bujuk Kael.

Arkha dan Karim langsung memperhatikan lagi sosok pria yang sedang melawan kepala suku. Setelah memperhatikan dengan seksama akhirnya dia bisa menebak siapa pria tersebut.

"Lynx, tangani sendiri. Pasti cukup mudah untukmu tanpa bantuan kami," ujar Lala santai. "Arkha, Karim, Kael, kita tidak perlu ikut campur."

Mendengar kata-kata Lala, mereka semua mundur, memberi ruang bagi Lynx. Dengan perasaan khawatir, Arkha mendekati Lala dan berbisik pelan, "Apa maksudnya ini? Apa dia mencari mati?"

Karim juga mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran. "Kenapa kalian sembrono seperti ini? Apakah kamu lupa betapa menakutkannya kekuatan kepala suku?Bagaimana jika dia terluka atau kepala suku tidak sengaja membunuhnya?"

Zhen Huan mengerutkan keningnya. Dia semakin penasaran dengan seberapa kuat pria yang disebut kepala suku ini. Di kota Huoling, Lynx dibantu oleh Ling Mei, jadi dia tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Kael sudah pernah menceritakan mengenai asal mereka dan juga menceritakan mengenai kepala suku yang sedang mereka cari, serta menceritakan kekuatan yang dimiliki kepala sukunya, namun Zhen Huan masih menganggap kekuatannya mungkin setara master foundation perak atau hitam.

Zhen Huan pernah mengira Lynx hanyalah manusia biasa saat di desa Lianhua, namun saat menemukan jasad Dai Qi, -- kultivator yang suka menculik para wanita-- dipinggir desa Lianhua, dia mulai mencurigai pria ini, karena anak buahnya sempat melihat penjahat Dai Qi ini mengincar Yun Qing atau kini dia mengetahui nama aslinya Jelita.

Setelah bertemu lagi, mereka berdua tiba-tiba sudah mampu berkultivasi, bahkan saat penduduk Huoling terkena energi iblis, dia melihat kemampuan Lynx bukanlah sekedar forging Qi.

"Aku sudah memperingatkannya, tapi dia bersikeras dan yakin bisa menanggung risikonya," kata Lala sambil memandangi pertarungan di depannya.

Lynx tetap berdiri di tempatnya, ekspresinya datar. Matanya menatap sosok bertopeng yang kembali menyerang dengan kekuatan penuh.

Sosok itu melesat lagi ke arah Lynx, gerakannya nyaris tanpa suara, tapi tekanan yang ditimbulkan cukup untuk membuat udara bergetar.

Swish!

Sebuah telapak tangan yang dilapisi energi menghantam ke arah kepala Lynx dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa. Namun, hanya dengan sedikit miring ke samping, Lynx menghindar tanpa perlu menggerakkan kaki.

Sosok bertopeng itu tidak berhenti. Begitu serangan yang dilepaskannya meleset, ia segera mengayunkan kakinya ke arah tulang rusuk Lynx. Kali ini, tendangannya mengandung kekuatan peledak yang jelas merupakan teknik khas ranah Master Foundation Perak Awal.

Dug!

Angin dari tendangan itu menghancurkan meja di belakang Lynx, tetapi Lynx sendiri hanya melangkah ringan ke belakang, menghindari serangan dengan elegan. Ia masih memasang ekspresi santai, seolah-olah ini hanya permainan.

Sosok bertopeng itu tampak semakin geram. Dengan cepat, ia mengubah jurus. Tangannya membentuk segel, dan dalam hitungan detik, lima bayangan dirinya muncul, mengelilingi Lynx dari berbagai arah.

"Shadow Mirage Technique!"

Kelima bayangan itu menyerang serentak—tinju, tendangan, dan tebasan telapak tangan berlapis energi spiritual menghujani Lynx tanpa memberi celah untuk kabur.

Namun—

Lynx tetap santai.

Ia hanya menggerakkan tubuhnya dengan presisi luar biasa, memiringkan kepala di detik terakhir untuk menghindari pukulan mematikan, melangkah setengah inci ke belakang untuk menghindari tendangan cepat, dan membelokkan tebasan tangan lawan hanya dengan sedikit sentuhan jari.

Bayangan-bayangan itu terus menyerang, tapi tidak ada satu pun serangan yang menyentuhnya.

Ketika semua serangan meleset, Lynx tiba-tiba mengangkat tangannya dan melemparkan sebuah kayu kecil yang ditemukannya di lantai dengan dua jarinya ke udara.

Swip!

Dengan cepat, kayu kecil itu melesat dengan kecepatan luar biasa. Sebuah gelombang energi kecil terlihat menerobos dan langsung menembus salah satu bayangan. Dalam sekejap, semua bayangan menghilang, menyisakan satu sosok asli yang sedang mengusap pipinya yang terasa panas terkena hantaman kayu kecil.

Sosok bertopeng itu terkejut, tetapi sebelum sempat bereaksi...

Dug!

Sebuah pukulan ringan dari Lynx menghantam tepat di dadanya. Tidak terlihat kuat, tetapi efeknya luar biasa.

Tubuh sosok bertopeng itu langsung terhempas ke belakang, menghantam lantai dengan keras dan tidak bergerak sama sekali.

Ruangan mendadak sunyi.

"STOP! BERHENTI!"

Jelita dan Lala menjerit histeris, berusaha menghentikan Lynx agar tidak melanjutkan serangannya. Mereka berlari ke arah tubuh pria itu, wajah mereka dipenuhi kepanikan.

"Lynx! Apa kau serius? Kenapa kamu membunuhnya?" bentak Lala dengan suara bergetar.

Jelita jatuh berlutut, menggenggam tubuh pria bertopeng yang kini tampak lemas tak bernyawa. "Tidak… Tidak mungkin…"

Tuan Zhen Huan menghela napas, ekspresinya suram. "Inilah akibat bercanda dengan sesuatu yang berbahaya…"

Kael hanya diam, tetapi sorot matanya menunjukkan gelombang emosi yang ia tahan dalam diam. Hatinya merasa bersedih karena kehilangan.

"Sudah kubilang kan, kekuatan kepala suku tidak bisa dicoba seperti ini. Begini hasilnya," teriak Karim dengan perasaan marah dan sedih. Dia marah terhadap dirinya sendiri karena tidak langsung menghentikan pertarungan dan membiarkan pria tersebut menguji kemampuan Lynx.

Lala, yang duduk di samping pria itu, dengan gerakan cepat meraih wajah pria itu dan menarik penutup wajahnya. Saat terlepas, wajah pria itu terlihat sudah pucat seperti mayat. Tubuhnya yang sudah tak bernyawa pun terlihat jelas. Wajah yang sangat di kenal jelas oleh Lynx.

Narendra!

